Story Detail

31 Aug 2015

Sandal Jepit

Vox Orbis / 31 Aug 2015 Footwear

Foto: Sandal jepit, Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Wittyben/Flickr

Esther Tanuadji

Mulai dari anak kecil, dosen, hingga presiden, sandal jepit tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia dan bisa ditemukan di setiap rumah.  Namun, kini sandal jepit di Indonesia memiliki kisah yang lebih mendalam. 

Sejak tahun 2012, sandal jepit telah menjadi simbol ketidakadilan.  Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dipukuli habis-habisan oleh petugas kepolisian karena mencuri sandal jepit dan dihukum penjara selama 5 tahun.  Sementara itu, petugas tadi hanya dihukum selama 7 hari.  Komisi Perlindungan Anak Indonesia pun memprakarsai tindakan solidaritas dengan cara mengumpulkan 600 pasang sandal jepit lalu mengirimnya ke Mabes Polri.   

Foto: Sandal jepit, in Bekasi, Jawa Barat, Indonesia. Adam Sundana/Flickr

Kisah lain tetang sandal jepit datang dari seorang dosen yang bertandang ke kantor imigrasi Jogjakarta.  Bukannya mengenakan sepatu rapi, dosen ini mengenakan sepasang sandal jepit.  Petugas imigrasi menolak untuk mengadakan wawancara yang sudah dijadwalkan karena dosen tersebut dianggap berpakaian kurang sopan.  Mendapat perlakuan seperti itu, dosen ini pun lantas melaporkannya ke pihak Ombudsman.  Baginya, sandal jepit tidak ada hubungannya dengan wawancara tersebut.  Pada akhirnya kantor imigrasi Jogjakarta mengonfirmasikan bahwa dengan alasan etika, mereka telah menetapkan kebijakan yang melarang sandal jepit digunakan saat berkunung ke kantor mereka.

Semasa pemerintahan Presiden Gus Dur, sandal jepit pernah diizinkan untuk memasuki Istana Negara.  Sebelum menjadi Presiden, Gus Dur adalah pemuka agama Islam yang berpengaruh.  Dalam sebuah kesempatan, ada sejumlah kyai dari Jawa Timur yang mengunjunginya di Istana dengan mengenakan sarung dan sandal jepit saja.  Sekalipun awalnya dilarang, merekapun akhirnya diizinkan untuk memasuki Istana mengenakan sandal jepit. 


Esther Tanuadji untuk Vox Orbis, 2015